BAB
I
PENDAHULUAN
Tumbuhan
memiliki banyak kandungan senyawa kimia yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan
obat. Terkadang, banyak penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan obat kimia
melainkan dapat disembuhkan dengan obat alami dari tumbuhan.
Asam
usnat adalah salah satu jenis asam yang diperoleh dari lumut kerak genus Usnea,
juga dapat diperoleh dari lumut kerak lain dari genus Ramalina (Usneaceae) dan
Cladonia (Cladoniaceae). Di antara flora ulat (lumut-lumutan berkulit keras)
yang sangat banyak jumlahnya, hanya beberapa saja yang digunakan dalam industri
jamu di Indonesia. Semuanya termasuk marga Usnea. Di Indonesia jenisjenis
tanaman Usnea hanya diperoleh di daerah pegunungan pada ketinggian 1000 meter.
Usnea tumbuh secara epifit pada cabang kayu. Berbagai jenis Usnea banyak
digunakan sebagai obat untuk berbagai penyakit di berbagai negara termasuk
Indonesia. Asam usnat ditemukan dalam beberapa produk jamu di Indonesia (1).
1.1.
Perumusan Masalah
a.
Dari
identifikasi simplisia, bagaimana organoleptis dan mikroskopis dari usnea spp
(Kayu Angin) ?
b.
Dari
uji kemurnian, bagaimana kadar murni dari usnea spp ?
c.
Golongan
senyawa apa saja yang terdapat pada usnea spp ?
1.2.
Tujuan
a.
Untuk mengetahui identifikasi simplisia usnea
spp (kayu angin) secara makroskopik dan
mikroskopik.
b.
Untuk
mengetahui kemurnian dari simplisia usnea spp (kayu angin)
c.
Untuk
mengetahui golongan senyawa yang terdapat pada simplisia usnea spp (kayu angin)
d.
Untuk
mengetahui metode yang digunakan untuk menegetahui golongan senyawa yang
terdapat pada simplisia usnea spp (Kayu angin)
1.3.
Manfaat
a.
Sebagai
bahan informasi tentang fragmen mikroskopis khas yang terdapat dalam usnea spp
(Kayu angin)
b.
Sebagai
bahan informasi tentang kemurnian dari simplisia usnea spp (Kayu angin)
c.
Sebagai
bahan informasi tentang golongan senyawa yang terdapat pada simplista usnea spp
(Kayu angin)
d.
Sebagai
bahan informasi tentang metode apa yang digunakan untuk mengentahui golongan
senyawa yang terdapat pada simplisia usnea spp (Kayu angin)
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA

Usnea
sp
A.
Tinjauan
Botani
a.
Klasifikasi
Tanaman
Divisi :
Thalophyta
Sub Divisi : Lichenes
Klass :
Ascholichenes
Sub Klass : Hymenoascolichenes
Ordo :
Lecanorineae
Famili :
Usneaceae
Genus :
Usnea
Spesies :
Usnea spp
b.
Morfologi
Tanaman
Kayu angin merupaka dua organisme yang
terdiri atas cendawan dan ganggang protococcus yang bersimbiosis membentuk
suatu kesatuan individu. Keseluruhan tumbuhan uumnya berwarna hijau pucat
kebiruan, tumbuhan tegak atau berjumbal, dan panjangnya sampai 30 cm atau
lebih. Cabang-cabangnya pejal atau kosong, membentuk talus berupa benang atau
ranting, bentuknya bulat memanjang, cabang bervariasi, sering kali kasar,
berwarna hijau kelabu, atau hijau kekuningan. Di Indonesia terutama di jumpai
di daerah pegunungan, namun dapat pula dijumpai di dataran rendah dengan
kelembaban udara yang cukup tinggi. Kayu angina tumbuh sebagai epifit di dahan
kayu yang tinggi sebab cahaya dan kelembaban tinggi merupakan factor yang
mutlak bagi perkembangannya.
Sebagai epifit kayu angin hidup menempel
pada cabang atau kulit pepohonan di daerah pegunungan. Keberadaannya sangat
bergantung pada tumbuhan inang serta lingkungan yang menjadi tempat tumbuhnya.
Kayu angina merupakan obat yang sangat penting dan banyak digunakan sebagai
ramuan obat tradisional.

Keterangan
gambar :
1.
Thalus,
bentuknya seperti serabut, kulit seperti tanduk, rapuh terdiri atas hipa-hipa
berdinding tebal, bersepta dan tegak lurus pada poros bujur.
2.
Apothesium,
merupakan badan buah yang berbentuk bulat, biasanya besar dengan tepi berambut.
B.
Tinjauan
Kimia
1.
Kandungan
kimia dari tanaman
Usnea spp mengandung
asam usnin, babatolat, usnetin, asam barbatin. Disamping itu Usnea spp juga
mengandung saponin, flavonoid dan polifenol. Dilaporkan bahwa asam usnin yang
dikandung usnea spp mempunyai potensi antibakteri yang efektif terhadap bakteri
gram positif.
2.
Tinjauan
Kimia Khusus
Kandungan bahan usnin
dalam usnea spp akan mengalami penurunan dalam keadaan basah, dan asam usnin
juga dapat mengalami kerusakan oleh logam (misalnya besi). Pada penyimpanan
selama 40 hari dengan kelembaban relative yang sesuai dan di ekstrak dengan
metode Marsark, menunjukan tidak hilangnya kandungan asam usnin. Ekstraksi
lichen (lumut kerak) dengan peralatan dari stainless steal menunjukan
presentasi hasil yang sama dengan menggunakan peralatan dari gelas .
Hasil isolasi asam usnin
oleh Marshaks dalam bentuk Kristal menunjukan sifat : dapat larut dalam aceton
panas, alcohol, eter, larut sedikit demi sedikit dalam minyak panas dan tidak
larut dalam air.
Rumus molekulnya C18H16O7
dengan berat molekul 334,31 dan melebur pada suhu 193-194ᵒ C.

Stuktur
kimia asam usnin
C.
Tinjauan
Farmakologi
Tumbuhan ini digunakan sebagai obat
untuk melarutkan lemak yang berlebihan, pengobatan penyakit TB, dan untuk
memperbaiki pencernaan. Batangnya dapat digunakan sebagai obat sakit perut,
bisul, borok, disentri, dan sariawan, perut kembung, influenza, pening, sukar
kencing, pening,
Hasil penelitian lainnya mengatakan
bahwa sifat toksisitas asam usnin menunjukan LD 50 2 mg per 25 gr berat badan
tikus dalam 18 jam, subkutaneus.
BAB
III
METODOLOGI
A.
Penapisan
Fitokimia
Skrining fitokimia merupakan suatu
analisa kualitatif kandungan kimia tumbuhan atau bagian tumbuhan. Skring dapat
dilakukan dengan metode KLT (kromatografi Lapis Tipis) karena KLT mempunyai
beberapa kelebihan dibanding kromatografi kertas yaitu dapat mengahasilkan pemisahan
lebih sempurna,kepekaan yang lebih tinggi,dilaksanakan hanya beberapa menit
saja, dapat dipakia preaksi kolosif, dapa dipakai senyawa hidrofob. Pada
penggunakan KLT menggunakan fase gerak dan fase diam dimana fase diam
menggunakan silika gel. Fase diam (lapisan penyerap) yang khusus digunakanuntuk
KLT yang dihasilkan oleh berbagai perusahaan. Silika gel ini menghasilkan
perbedaan dalam efek pemisahan yang tergantung pada cara pembuatannya. Selain
itu fase gerak (pelarut pengembang) ialah medium angkut yang terdiri atas satu
atau beberapa pelarut. Fase gerak ini menggunakan eluena dan etil asetat karena
bersifat kepolaran dari minyak atsiri dengan perbandingan (93:7) juga
menggunakan eluena IPA dan aquadest (1/3:1/4)
Namun selain itu skrining fitokimia
juga dapat dilakukan dengan Uji fitokimia terhadap kandungan senyawa kimia
metabolit sekunder yang merupakan
langkah awal yang penting dalam penelitian mengenai tumbuhan obat atau dalam
hal pencarian senyawa aktif baru yang berasal dari bahan alam yang dapat
menjadi precursor bagi sintesis obat-obat baru atau menjadi prototype senyawa
aktif tertentu. Oleh karenanya, metode uji fitokimia harus merupakan uji
sederhana tetapi terandalkan. Metode uji fitokimia yang banyak digunakan adalah
metode reaksi warna dan pengendapan yang dapat dilakukan di lapangan atau di
laboratorium
Skrining untuk isolasi asam
usnat dilakukan dengan menggunakan
metoda reaksi kimia dikarenakan pertimbangan mengenai waktu, tingkat kesulitan,
dan peralatan yang lebih sederhana. Pada dasarnya bila menggunakan teknik KLT
masih bisa dilakukan hanya saja dikhawatirkan waktu yang lebih lama.
B.
Ekstraksi
Ekstraksi dari bahan alam dapat
dilakukan dengan menggunakan bahan segar atau yang telah dikeringkan. Bila
bahan segar digunakan pemanasan dan pada bahan yang dikeringkan, bahan dipotong
halus dan dicelupkan pada alkohol. Ekstraksi tumbuhaan menggunakan perkolar yan
dapat dilakukan dengan berbagai metoda antara lain:
1.
Maserasi
Merupakan proses ekstraksi yang
sederhana dengan merendam bahan pelarut dalam waktu tertentu sampai bahan
menjadi lunak sehingga senyawa yang dikandungnya ditarik oleh pelarut yang
digunakan.
2.
Perkolasi
Dengan menggunakan perkolar yang
terbuat dari kaca tebal dan diujung alat terdapat kapas atau kertas saring.
3.
Digestasi.
Proses penyaringan yang sama deengan
meserasi yakni menggunakan pemanasan pada suhu 30°-40° C.
4.
Infusa
Suatu cara yang dibuat dengan
mengekstraksi simplisia nabati pada suhu 90° C selama 15 menit.
5.
Decokta.
Penyarian dengan merebus simplisia dengan
air 100 bagian pada suhu 90° C selama 30 menit
6.
Sokletasi.
Merupakan suatu cara ekstraksi dengan
alat soklet. Pada cara ini pelarut organik dan tempat simplisia terpisah.
Prinsipnya adalah penyarian berulang-ulang sehingga penyarian lebih sempurna dengan
pelarut yang lebih sedikit.
Asam
usnat termasuk kedalam golongan polifenol. Dalam proses ekstraksi untuk
penarikan senyawa polifenol dilakukan
dengan teknik sokletasi. Pemilihan teknik di dasarkan pada karakteristik
senyawa yang akan di murnikan. Dalam hal ini asam usnat cukup stabil dalam
pemanasan, dan di tinjau dari perasalatanya cukup sederhana.
Mengenai
pelarut yang di gunakan untuk penarikan senyawa polifenol ini menggunakan
pelarut polar. Hal tersebut dilakukan karena kebanyakan dari senyawa fenolat
adalah polar. Selain itu sifat dari pada senyawa yang akan di murnikan bersifat
polar.
C.
Pemantauan
ekstrak
Setelah
melakukan ekstraksi maka akan di peroleh Ekstrak, ekstrak yang di peroleh
kemudian di lakukan pengujian lanjutan dengan menggunakan metode KLT. Hal ini
dilakukan untuk memastikan keberadaan senyawa polifenol yang terdapat dalam
sampel, yang sebelumnya telah dilakuka pemisahan dengan metoda sokletasi.
Pemilihan
metode KLT didasarkan pada kemudahan dalam melaksanakannya dan dalam
pertimbangan waktu juga.
Untuk
perbandingan berdasarkan literature adalah sebagai berikut :

Untuk
fase geraknya menggunakan fase gerak
: Kloroform-etil asetat-asam
formiat (0,5:9:0,5) dan penampak noda:
pereaksi FeCl3 10%
D.
Fraksinasi
Fraksinasi
adalah proses pemisahan suatu kuantitas tertentu dari campuran (padat, cair,
terlarut, suspensi atau isotop) dibagi dalam beberapa jumlah kecil (fraksi)
komposisi perubahan menurut kelandaian. Pembagian atau pemisahan ini didasarkan
pada bobot dari tiap fraksi, fraksi yang lebih berat akan berada paling dasar
sedang fraksi yang lebih ringan akan berada diatas. Fraksinasi bertingkat
biasanya menggunakan pelarut organik seperti eter, aseton, benzena, etanol,
diklorometana, atau campuran pelarut tersebut. Asam lemak, asam resin, lilin,
tanin, dan zat warna adalah bahan yang penting dan dapat diekstraksi dengan
pelarut organik (Adijuwana dan Nur 1989).
Fraksinasi bertingkat
umumnya diawali dengan pelarut yang kurang polar dan dilanjutkan dengan pelarut
yang lebih polar. Tingkat polaritas pelarut dapat ditentukan dari nilai
konstanta dielektrik pelarut. Emapat tahapan fraksinasi bertingkat dengan
menggunakan empat macam pelarut yaitu
(1) ekstraksi aseton, (2) fraksinasi n-heksan, (3) fraksinasi etil eter, dan
(4) fraksinasi etil asetat (Lestari dan Pari 1990).
Macam – macam proses
fraksinasi:
a)
Proses
Fraksinasi Kering (Winterization)
Fraksinasi
kering adalah suatu proses fraksinasi yang didasarkan pada berat molekul dan
komposisi dari suatu material. Proses ini lebih murah dibandingkan dengan
proses yang lain, namun hasil kemurnian fraksinasinya rendah.
b)
Proses
Fraksinasi Basah (Wet Fractination)
Fraksinasi
basah adalah suatu proses fraksinasi dengan menggunakan zat pembasah (Wetting
Agent) atau disebut juga proses Hydrophilization atau detergent proses. Hasil
fraksi dari proses ini sama dengan proses fraksinasi kering.
c)
Proses
Fraksinasi dengan menggunakan Solvent (pelarut)/ Solvent Fractionation
Ini adalah
suatu proses fraksinasi dengan menggunakan pelarut. Dimana pelarut yang
digunakan adalah aseton. Proses fraksinasi ini lebih mahal dibandingkan dengan
proses fraksinasi lainnya karena menggunakan bahan pelarut.
d)
Proses
Fraksinasi dengan Pengembunan (Fractional Condentation)
Proses
fraksinasi ini merupakan suatu proses fraksinasi yang didasarkan pada titik
didih dari suatu zat / bahan sehingga dihasilkan suatu produk dengan kemurnian
yang tinggi. Fraksinasi pengembunan ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi
namun proses produksi lebih cepat dan kemurniannya lebih tinggi.
Asam usnat dapat di peroleh dari ekstrak
tadi dengan cara fraksinasi dengan menggunakan pelarut, dan fraksinasi yang
dilakukan adalah fraksinasi secara bertingkat. Dilakukan fraksinasi bertingkat
di karenakan untuk memperoleh senyawa yang lebih murni. Dengan menggunakan
pelarut yang memiliki tingkat kepolaran yang berbeda, bisa lebih melarutkan
pengotor yang terdapat pada ekstrak yang di peroleh sebelumnya.
E. Pemantauan Fraksi
Fraksi yang diperoleh dilakukan pengujian dalam tahap lanjut
yang dimaksudkan untuk memastikan keberadaan asam usnat yang di peroleh.
Dilakukan pada masing-masing fraksi (ada 3 fraksi) dengan tujuan untuk
mengetahui pada fraksi mana asam usnat di peroleh. Pengujian ini dilakukan
dengan menggunakan metode KLT dengan menggunakan bantuan penampang bercak.
Dengan nilai perbandingan
sebagai berikut :
Nilai Rf pada kromatografi
lapis tipis dengan cairan pengembang heksan (6:4) dan etil asetat (7:3)
berturut-turut adalah 0.61 dan 0.69.
F.
Pemurnian
dan Uji Kemurnian
Pemurnian
merupakan suatu proses untuk meningkatkan kualitas suatu bahan agar mempunyai
nilai jual yang lebih tinggi. Beberapa metode pemurnian yang dikenal adalah
secara kimia ataupun fisika.
Teknik
pemurnian :
1.
Kristalisasi
dan rekristalisasi
Kristalisasi adalah suatu teknik untuk mendapatkan bahan murni
suatu senyawa. Dalam sintesis kimia banyak senyawa-senyawa kimia yang dapat
dikristalkan. Untuk mengkristalkan senyawa-senyawa tersebut, biasanya dilakukan
terlebih dahulu penjenuhan larutan kemudian diikuti dengan penguapan pelarut
serta perlahan-lahan sampai terbentuk kristal. Rekristalisasi adalah suatu
teknik pemurnian bahan kristalin. Seringkali senyawa yang diperoleh dari hasil
suatu sintesis kimia memiliki kemurnian yang tidak terlalu tinggi. Untuk
memurnikan senyawa tersebut perlu dilakukan rekristalisasi.
2.
Sublimasi
adalah peristiwa penguapan secara langsung padatan kristalin kedalamfasa uap.
3.
Destilasi
adalah pemurnian cairan berdasarkan perbedaan titik didih dengan jalan
mendidihkannya, mendinginkan uap yang terbentuk dan mengumpulkan cairan yang
diperoleh dari pendingin uap.
Dalam tahap
pemurnian yang dilakukan adalah menguapkan senyawa dari fraksi semipolar hingga kering. Atau proses yang dipilih
merupakan kristalisasi. Kemudian Kristal yang di peroleh tadi di cuci dengan
menggunakan eluen yang sesuai. Hal ini dimaksudkan untuk lebih memurnikan
senyawa yang akan di tarik.
G.
Karakterisasi
dan Identifikasi
a.
Uji
Titik Leleh
Kebanyakan senyawa organik yang berwujud kristal
mempunyai titik leleh cukup rendah sehingga mudah ditetapkan dengan alat
sederhana. Kimiawan organik secara rutin menggunakan titik leleh untuk membantu
menidentifikasikan senyawa kristal dan untuk mendapat keterangan tentang
kemurniannya.
b.
HPLC
(High Performance Liquid Chromatography)/KCKT
KCKT (kromatografi cair kinerja tinggi) telah terbukti
menjadi cara terbaik untuk menemukan jejak kecil bahan kimia dan untuk mengukur
hasil studi kimia. Zat baru masih terus ditemukan setiap tahun dan struktur
mereka ditentukan.
c.
Kromatofrafi
Lapis Tipis
Teknik TLC/KLT fasa diam (terutama silika, alumina, dan
selulosa) dilapiskan di permukaan sbuah plat pendukung (umumnya dibuat dari
bahan kaca atau lembaran logam Al). Bila noda telah kering plat diletakkan
secara vertikal dalam bejana yang sesuai dengan tepi yang di bawah dicelupkan
dalam fasa bergerak yang terpilih, maka pemisahan kromatografi penaikan akan
diperoleh.
Pada akhir perkembangan, pelarut dibiarkan menguap dari
plat dan noda-noda yang terpisah dilokalisir dan diidentifikasi dengan
cara-cara fisika dan kimia seperti yang digunakan dalam kromatografi kertas.
Dalam tahap ini untuk karakterisasi senyawa asam usnat dilakukan
dengan menggunakan metoda KLT. Dengan hasil rf pembanding adalah : dengan harga
Rf 0,5; 0,75; dan 0,7.
Untuk
identifikasi dilakukan dengan menggunakan bantuan spektro UV pada panjang
gelombang 254 nm
BAB IV
ALAT
DAN BAHAN
a.
Skrinning
fitokima
Metode : Reaksi Kimia
Alat :
1.
2
tabung reaksi
2.
Gelas
kimia 500 mL
3.
Kompor
Listrik
Bahan :
1.
1
g sampel
2.
100
mL aquadest
3.
FeCl3 10%
b.
Ekstraksi
Metode : Sokletasi
Alat :
1.
Labu
soklet
2.
Labu
didih
3.
Gelas
ukur
4.
Kompor
listrik
5.
Oven
Bahan :
1.
50
gram sampel
2.
300
mL eter
3.
300
mL methanol 90%
4.
300
mL methanol 50 %
c.
Fraksinasi
Metode : Ekstraksi
cair-cair
Alat :
1.
Corong
pisah
2.
Statip
3.
Labu
ukur
4.
Erlenmeyer
250 mL
Bahan :
1.
sampel
2.
Metanol
3.
N-heksan
4.
Etil
asetat
5.
Metilen
klorida
d.
Uji
pemurnian
Metode : KLT
Alat :
1.
Kertas
whatman
2.
Pipa
kapiler
3.
Bejana
4.
Gelas
ukur 10 mL
5.
Batang
pengaduk
6.
Spektro
UV /IR
Bahan :
1.
Fraksi
Sampel
2.
Etil
asetat
3.
Aseton
4.
Methanol
5.
e.
Karakteristik
Metode : KLT
Alat :
1.
Kertas
whatman
2.
Pipa
kapiler
3.
Bejana
4.
Gelas
ukur 10 mL
5.
Batang
pengaduk
6.
Spektro
UV /IR
BAB V
RENCANA KERJA
- Skrinnimg fitokim
Plan A
1.
Timbang sampel sebanyak
50 gram, cuci besih, tambahkan aquadest 200 mL, panaskan smpai mendidih
2.
Saring, dinginkan
3.
Ambil sedikit sampel
uji sebanyak 10 mL, masukan kedalam tabung reaksi
4.
Tambahkan tetes demi
tetes FeCl3 10 %, adanya warna hitam menunjukan sampel positif
Plan
B
1.
Sampel yang telah
dihaluskan sebanyak 1.233 g direndam dengan metanol kemudian disimpan di tempat
yang terlindung cahaya matahari selama lima hari sambil sekali-sekali dishaker.
2.
Selanjutnya filtrat
metanol dipisahkan dengan cara filtrasi.
3.
Filtrat metanol
diuapkan dengan rotary evaporator,
sehingga diperoleh ekstrak metanol,
4.
ekstrak ini dimasukkan
di topless kecil yang telah dilapisi
alumunium foil dan ditempatkan di desikator.
5.
Identifikasi senyawa
golongan polifenol Fase gerak :
Kloroform-etil asetat-asam formiat (0,5:9:0,5)
6.
Penampak noda: pereaksi
FeCl3 10%
7.
Jika timbul warna hitam
setelah penyemprota pereaksi FeCl 10% menunjukkan adanya senyawa polifenol
dalam ekstrak.
- Ekstraksi
1. Ditimbang 500 gram sampel, kemudian dicuci dan
ditiriskan.
2. Dengan menggunakan pisau atau gunting bahan
yang sudah kering di potong-potong sekecil mungkin, kemudian di bungkus dengan
kertas saring dan dimasukan ke dalam soklet.
3. Serbuk kering diekstraksi secara sinambung
menggunakan alat soxhlet dengan pelarut aseton selama 8 jam. Atau hingga bahan
terekstrak sempurna. (terlihat dari warna bening pada pelarut yang mengenai
bahan.
4. Hasil ekstraksi di saring,selanjutnya diuapkan
sehingga di peroleh ekstrak aseton (sekitar 5-6 mL)
- Pemantauan ekstrak
1)
Ditotolkan ekstrak pekat aseton pada lempeng
kromatografi dengan ukuran lempeng 10 x 20 cm dengan jarak penotolan 2 cm dan
jarak rambat 11,5 cm.
2)
Dieluasi dengan larutan pengembang I (Asam asetat : Kloroform dengan perbandingan
1 : 9) sampai mencapai jarak rambatnya.
3)
Bercak dibaca pada lampu UV dengan panjang
gelombang 254 nm dan 365 nm.
4)
Pada larutan pengembang I hasil kromatogram
diuapi dengan NH3.
5)
Dihitung harga Rf untuk sampel.
- Fraksinasi
Plan A
1.
Dilakukan penyarian dari ampas hasil ekstraksi
sebelumnya
2.
Ampas serbuk di keringkan
3.
Disari dengan menggunakan metanol, sampai pelarut
benar-penar bening (fraksi metanol)
Plan B
1.
Ukur sampel sebanyak mL
2.
Masukan kedalam corong pisah, lalu tambahkan
pelarut campuran n-heksan dan etil asetat dengan perbandingan 8:2
3.
Aduk, atau di kocok sebagaimana mestinya
4.
Lakukan ekstraksi dan di peroleh fraksi I
5.
Fraksi I dimasukan kedalam corong pisah lalu di
tambahkan pelarut metilen klorida dan metanol dengan pebandingan 7:3
6.
Aduk, dan kocok sebagaimana mestinya
7.
Lakukan ekstraksi sampai senyawa terpisah, maka
di peroleh fraksi II
8.
Fraksi II diambil dan dimasukan lagi kedalam
corong pisah, lalu tampahkan pelarut kloroform dan metanol dengan perbandingan
7:3
9.
Aduk, dan kocok sebagaimana mestinya
10. Lakukan ekstraksi sampai
senyawa terpisah, maka di peroleh hasil fraksi III
11. Setelah dilakukan
ekstraksi pada tahap akhir dan dilakukan uji pemantauan fraksi, maka hasil
diuapkan sampai kering . Lalu residu dilarutkan dalam sedikit aseton dan ditambahkan pelarut
n-heksan, didiamkan satu malam hingga terbentuk kristal warna putih kekuningan.
- Pemantauan Fraksi
1. Sebelumnya siapkan
pengembang campuran pelarut antara etil asetat-metanol (8:2)
2. Siapkan kertas silika
3. Beri garis (untuk ciri
pengembangan)
4. Siapkan pipa kapiler,
5. Totolkan pada kertas yang
telah di beri garis, dan atur penotolannya hingga dalam proses pengembangan
tidak saling tumpang tindih.
6. Biarkan mengembang hingga
batas yang di tentukan
7. Untuk penampang bercak
menggunakan asam sulfat 10% dalam metanol
8.
Hitung nilai Rf, bandingkan dengan literatur Rf
dari senyawa asam usnat
- Uji pemurnian dan
kemurnian
Uji pemurnian
1.
Fraksi metanol yang diperoleh dari fraksinasi
sebelumnya kemudian di kumpulkan dan diuapkan sampai kering.
2.
Lalu residu dilarutkan dalam sedikit aseton
dan ditambahkan pelarut n-heksan, didiamkan satu malam hingga terbentuk kristal
warna putih kekuningan.
Uji kemurnian
1.
Ditotolkan ekstrak pekat methanol pada lempeng
kromatografi dengan ukuran lempeng 10 x 20 cm dengan jarak penotolan 2 cm dan
jarak rambat 11,5 cm.
2.
Dieluasi dengan larutan pengembang I ( heksan : etil asetat (6:4) dan (7:3) sampai mencapai jarak
rambatnya.
3.
Bercak dibaca pada lampu UV dengan panjang
gelombang 254 nm dan 365 nm.
4.
Dihitung harga Rf untuk sampel
.
- Identifikasi dan
karakterisasi
Identifikasi
1. Ekstrak sampel di uji menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
untuk mengetahui komposisi pelarut yang memberikan pemisahan terbaik.
2. Sebelumnya dilakukan pengembangan eluen heksan : etil asetat
(4:1)
3. Plat KLT disemprot dengan penampak noda larutan 10% H2SO4 dalam
metanol.
4. Noda
yang diperoleh dilihat dibawah sinar UV 264 nm
Karakterisasi
1.
Untuk pengujian titik leleh, dilakukan dengan
alat melting block
2.
Sedangkan untuk karakterisasi secara organoleptis
dilakukan dengan pengamatan mengenai bentuk kristal.
DAFTAR PUSTAKA
Ø
Buku & Jurnal
Penelitian:
Cansaran D, Kahya D, Yurdakulol E,
Atakol O. Identification and quantitation of usnic acid from the lichen Usnea
species of Anatolia and antimicrobial activity. Z Naturforsch C.
2006;61:773-776.
Tjirosoepomo,
gembong. 1989. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press
Solichin,M.,Merati,Y.,Myrna,S.N.,
Analisa Kuantitatif Asam Usnat secara KLT-Densitometri, Warta Tumbuhan Obat
Indonesia, 4, 10-13, 1992.
Kheir,Y.M.,and Patel,M.B., Isolation of
Usnic Acid from Sundanese Drug Usnea
moliiuscula, Planta Medica, 27,171-172,1975.
Kardono,.B.S.,Zaw,.K,and
Sugiarso,Sugeng., Chemical constituents of
Usnea spp from Tawangmangu.1996.
Cansaran,Demet.,dkk. Identification and
Quantitation of Usnic Acid from the Lischen Usnea Species of Anatolia and
Antimicrobial Activity. Ankara
University,Management of Scientific Research Projects.2006.
Ø
Web :
sip blogna..
ReplyDelete